Kamis, 03 Maret 2016

Pacaran, Pornografi, Dampak?

 

Bismillah… 

 
Pembahasan ini sebetulnya terlalu luas dan saya sama sekali bukan ahlinya, hanya ingin sedikit berbagi dari buku yang telah saya baca dikarenakan saya tertarik, dan kerena keterbatasn ilmu yang saya punya, penulis berharap pembaca bisa memuat komentar yang positif dan memberikan masukan.
Pergaulan remaja sekarang ini sangat sulit untuk dikontrol, mereka seperti sudah jauh dari agama, dan menjadikan agama hanya sebagai ritual aja, iya... ritual shalat 5 waktu tapi tidak memaknai shalat itu bagaimana dan seperti apa, hanya jungkir balik... padahal ketika shalat itu kita berkomunikasi dengan pencipta kita. Tau kan?

Kita sedikit bahas kenapa pergaulan remaja sekarang begitu bebas ya?
Bermula dari larangan orangtua yang relatif longgar, sehingga terjadi berbagai penyimpangan-penyimpangan remaja, salah satunya yaitu pacaran. Sehingga terdengar aneh ketika orang menikah tanpa diawali dengan pacaran.
Iya, dikatain so alim lah
Engga jaman lah, kuno lah
Kebiasaan bangsa arab lah
Oke kita buktikan dampak dari pacaran dan pergaulan bebas, dengan hasil survey yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 Kota Besar selama tahun 2007 memberikan fakta bahwa:
-          97% remaja pernah menonton film porno,
-          93,7% pernah ciuman, petting dan oral seks
-          62,7% remaja SMP sudah tidak perawan, serta
-          21,2 %  remaja SMU pernah aborsi
Sekjen Departemen Kesehatan (Depkes) Sjafi’i Ahmad menyatakan, informasi tentang pornografi akan mengubah pola perilaku seseorang sesuai dengan informasi yang diterimanya.
Oke, menurut saya ini hampir sama saja dengan cuci otak dan pembodohan, setuju apa setuju? Karena menurut beberapa survey juga, menonton film porno itu menurunkan daya ingat dan beberapa orang menjadi tidak fokus menjalankan aktivitas sehari-hari, linglung.
Bayangkan karena hal yang dianggap lumrah dan wajar ini, pernikahan sesama jenis yang dilegalkan, pacaran yang sudah dianggap lumrah oleh masyarakat…. menyebabkan moral bangsa terutama individu hancur, bahkan nyaris hilang. Oke jangan jauh-jauh ke luar pulau…. Bicara di Jawa Timur saja dulu yang deket-deket:
-          1,5 juta remaja dilaporkan mengidap HIV/AIDS,
-          13 ribu lebih remaja menjadi pengguna narkoba suntik diawali dari usia SD
-          28,5 % remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah.

Bicara HIV/AIDS, apakah penyakit itu sudah ada obatnya sampai sekarang? Belum kan?
Sungguh ini adalah azab yang nyata dari Allah untuk para pendurhaka.
Penulis pernah mendengar dosen berbicara bahwa asa usul HIV/AIDS itu awalnya dari kaum homo/lesbian, ya... mereka seperti kaum Nabi Luth, sungguh hina diri mereka. Mereka tidak percaya bahwa azab Allah itu sangat pedih, Islam bukan ideologi mereka sungguh mereka adalah orang-orang yang tersesat.
Naudzubillah.
Jumlah aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2,3 juta, 30% diantaranya dilakukan oleh remaja, KTD (kehamilan tidak diinginkan) cenderung meningkat; 150.000 - 200.000 kasus setiap tahun. Subhanallah…
Siapa pihak yang paling dirugikan disini? laki-laki? BUKAN! KITA sebagai PEREMPUAN yang sangat dirugikan, dan ingat! penyesalan itu sudah standby menunggumu menjemputnya.
Akan seperti apakah generasi negeri ini dengan moral anak bangsa yang sangat rendah ini, menjadi pemudah-pemudi harapan bangsa kelak? Pemuda pembangun peradaban islam akhir zaman? Ah.. Jangankan untuk menegakkan islam, menopang tubuhnya sendiripun belum bisa, Subhanallah... 
Semoga segera disadarkan, dengan banyaknya yang bermaksiat, semoga banyak pula orang-orang yang ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Semoga mereka sadar bahwa mereka punya Allah dan malaikat yang full time memperhatikan dan melihat perbuatan mereka, sungguh tidak adakah suatu rasa malu sedikitpun pada diri mereka?
Dan Islam lah jalan untuk mereka, Islam sebaik baiknya tempat kembali dan bertaubat.
Mungkin mustahil untuk menjadi “sesempurna” Rumaisa RA, Salman Al Farisi RA, atau pun Bilal bin Rabbah RA. Namun cukup dengan menjadi “jomblo mulia” generasi muda akan terselamatkan.
Tak terbanyang
Bagaimana kami mengasuh anak-anak kami kelak
Bagaimana sulitnya mengontrol mereka diluar rumah
Terutama dalam pergaulan
Di didik dalam keluarga islami
Sekolah islami
Dan terutama lingkungan islami
Mungkin tak menjamin baik
namun sedikit meminimalisir keburukan
Akan ada tanggung jawab kelak,
Akan ada penghisaban
Semoga kami bisa membimbing keturunan kami
Semoga Ridha Allah ada pada keluarga kami kelak
Aamin
beberapa sumber dari buku #kdkd #dije 

4 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar