Rabu, 27 Mei 2015

Hidayah? Jilbab itu Harga Mati!



Assalamu'alaikum wr.wb.

Sering ya kita mendengar seseorang jika ditanya “hayooo kamu nih kapan berhijab?” dan jawabannya “nanti dulu ah nunggu datang hidayah”

Yuk kita berbagi…
Taukah teman-teman makna hidayah? Yup! Hidayah berasal dari kata Al-hadyu, yang berarti bimbingan hidup. Orang yang mendapatkan hidayah bukan berarti dia tak pernah ber’doa, justru ia selalu berdo’a agar ia taat dan istiqomah. Namun, mengapa banyak sekali orang yang malah menunggu hidayah bukan menjemput hidayah? Ini bisa dikarenakan beberapa faktor ketidaktahuan seseorang tentang hidayah itu sendiri. Taukah teman-taman bahwa hidayah itu dekaaaaat sekali dengan kita? Hanya saja pintu hati kita yang masih belum membuka untuk menerima hidayah itu masuk kedalam jiwa dan melekat selamanya menjadi sebuah ketaatan pada Sang Pencipta.
Makna “nunggu hidayah dulu” itu salah, bahwasannya hidayah itu adalah kita yang menjemputnya, gimana cara menjemputnya? MEMINTA. Allah senang pada hambanya yang selalu berdo’a dan meminta, kita berhak meminta hidayah padaNya, berdoa agar diberikan jalan yang lurus, dan dari situlah engkau akan merasakan betapa hidayah itu sebetulnya sangat dekat sekali dengan kita. Ambil contoh kecil saja, misalnya memakai kerudung dan jilbab (jubah/gamis). Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa yang menggunakan pakaian semacam ini adalah orang-orang pesantrenan, ya…tidak dipungkiri sayapun dulu beranggapan begitu. Namun seorang santri pun tidak menjamin bahwa ia sudah baik, dan keluar dari pesantren ia akan tetap menggunakan khimar dan jilbabnya, keinginan kuat itu adalah datang dari diri sendiri, bukan terpaksa karena keadaan atau aturan. Kewajiban menutup aurat itu adalah kewajiban seorang muslim/ muslimah. Lalu mengapa sekarang muslim seperti ini? Kau tau.. pengaruh dari luar itu sangat kuat (barat) dan juga karena terciptanya lingkungan yang tidak kondusif yang membuat keadaan seperti ini. Yang memakai jilbab panjang disebut teroris, aliran sesat. Terus kalo yang gak pake jilbab di puji-puji cantik, modis. Naudzubillah…
Muslimah berjilbab itu, bukan berarti ia itu perempuan sholeha yang tidak mempunyai dosa dan salah, tapi itu adalah bentuk rasa syukur ia terhadap apa yang sudah Allah karuniakan padanya, fisik yang sempurna yang harus dijaga, dan itu adalah sebuah kewajiban agar tidak sembarangan orang yang bisa menikmati tubuhmu ukhti… Allah itu sangat menyayangi wanita sehingga ia berikan aturan seperti ini yang menurut kamu ini adalah berntentangan dengan Hak Asasi, Hak Reproduksi Perempuan, Hak kebebasan dan hak-hak buatan manusia yang lainnya.
Muslimah berjilbab bukan berarti ia 100% baik, justru karena ia merasa masih kurang baik, maka ia berusaha untuk memperbaiki. Ia berusaha untuk taat, karena dengan jilbabnya ia merasa malu, karena dengan jilbabnya ia merasa berharga.
Lalu bagaimana dengan “nanti ah berkerudungnya kalau sudah siap”.
Jelas salah, khimar dan jilbab itu adalah HARGA MATI, Allah langsung yang memerintahkan pada kita dalam Al-Quran:

1. Qs. Al-Ahzab: 59 
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.


2.  QS. An-Nuur: 31 
“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” 


Memangnya jika malaikat Ijroil mencabut nyawamu kamu bisa jawab “nanti sajalah kalau sudah siap”. Tidak…. Karena itu adalah suatu takdir pada dirimu, begitupun sama halnya dengan jilbab ini tidak bisa ditawar karena ini juga perintah Allah.
Faham ya Ukhti kalau jilbab itu bersifat Urgensi, dan kita wajib taat pada setiap surat yang Allah turunkan yang berisi hukum-hukum Allah.

Semoga diitiqomahkan dan segera jemput hidayahnyaaaaaa ^_^

wassalamu'alaikum wr.wb.

Rabu, 18 Maret 2015

Memantapkan Diri Dijalan Dakwah

Assalamualaikum sahabat, saya ingin sedikit berbagi tulisan dari tugas dari salah satu DKM fakultas yang saya ikuti, yang bertema 'memantapkan diri dijalan dakwah'.

selamat membaca ^_^


 
Mungkin ada sebagian orang yang menyepelekan tentang dakwah, seperti yang pernah saya alami di lingkungan saya yang masih menganggap  dakwah itu urusan seseorang yang lulus dari pesantren, urusan Ustadz, atau Ustadzah. Padahal, dilihat dari pengertiannya saja, Dakwah (Arab: دعوة‎, da‘wah; "ajakan") adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Dapat disimpulkan dari pengertiannya dakwah itu adalah ajakan, ajakan dari seorang muslim kemuslim yang lain untuk sama-sama berjalan dalam kebaikan agar mendapat ridho Allah swt.. Seperti firman Allah SWT.:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)

Dan hadist dari abu sa’id Al-khudri ra. Berkata, “aku mendengar Rasululla saw. Bersabda:
“Barang siapa melihat kemungkaran di lakukan di hadapannya, maka cegahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu maka bencilah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lamahnya iman.” (Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i-At-targhib)

Dari keduanya, dapat disimpulkan bahwa dakwah boleh disebarkan oleh siapa saja asal ada ilmunya, karena Allah juga telah mencegah kita untuk tidak berbicara tanpa ilmu. Dakwah juga tidak harus mengandung materi yang panjang lebar, kita juga bisa mengaplikasikan dakwah dalam kehidupan sehari-hari, dakwah kepada teman yang sedikit lebih mudah karena kita yang terbiasa saling berkomunikasi atau sekedar mendengarkan curahan isi hati teman kita, disitulah kita bisa menyelipkan nasehat-nasehat islami kepada teman kita agar mereka lebih baik.

Sebagai aktivis dakwah, selalu ada rintangan dalam menjalankannya. Kita juga tahu bahwa ketika kita berada dalam jalur dakwah terlebih menjadi aktivis dakwah, dakwah ini merupakan jalur yang panjang dan tidak cukup hanya samapai pada generasi kita saja, dan yang pasti memerlukan daya tahan yang kuat, kenapa harus memiliki daya tahan kuat? Agar kita tetap istiqomah dalam mengemban dakwah. Banyak cara agar kita tetap bertahan dalam melakukan dakwah; kembali ke motivasi dan tujuan kita di jalan dakwah sebenarnya untuk apa? Menyegarkan kembali keimanan kita dengan cara sering berkumpul dan berbincang dengan aktivis lain agar kita dapat me-charger semangat kita, kita juga harus pandai bersabar karena berdakwah ini memerlukan waktu yang tidak sedikit, berdakwah kepada seseorang berarti kita memasuki/ memengaruhi seseorang atau mengubah pola pikir seseorang agar mau berjalan dijalan-Nya. Ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Juga menjalin tali persaudaraan (ukhuwah) yang baik satu sama lain, baik dengan sesama aktivis, lingkungan dan mad’u (objek dakwah) sekalipun. Ikhlas adalah salah satu hal yang dapat menguatkan motivasi kita, agar semuanya tercapai dengan cara perbaharui niat, menambah kecintaan pada Allah, selalu beramal baik, dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai manusia sekaligus hamba Allah. Tak jarang aktivis ini didera kesulitan, yang mucul dari luar maupun dari diri sendiri. Kesulitan dari diri sendiri itu bisa seperti rasa malas yang tumbuh kapanpun kita merasa bosan, bahkan kesulitan inipun bukan hanya dialami oleh para aktivis dakwah sekarang, pada generasi sebelumnya juga sejak Rasul dan para sahabatnya berdakwah, hambatan, rintangan dan kesulitan itu selalu ada. 
Ada beberapa dakwah yang tanpa kita sadari kita telah memengaruhi orang lain dalam kebaikan:

  1.   Dakwah fardiah
merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasa dakwah ini seperti menasehati teman kerja atau teman dekat seperti yang dijelaskan tadi atau mengunjungi orang yang sakit.
  
2. Dakwah bil al-hal
 Dakwah bil al-hal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad'ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da'i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Dakwah seperti ini bisa dilakukan utamanya pada unit terkecil misalnya kepada keluarga terlebih dahulu, ibu atau ayah mencontohkan menerapkan shalat tepat waktu, selalu membaca basmalah ketika hendak melakukan sesuatu sehigga orang lain yang melihat dapat menirukan perbuatan kita.
  
3.    Dakwah bit-tadwin
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Pada zaman sekarang ini kita dapat dengan mudahnya mempublikasikan dakwah kita lewat medisa sosial baik itu lewat facebook, line, membuat suatu buku atau novel yang mengandung unsur dakwah didalamnya, bahkan jika yang senang menulis di blog, bisa kita terbitkan tulisan kita di blog juga.
Dahwah melalui tulisan ini cocok untuk seorang aktivis dakwah yang tidak biasa berbicara di depan orang banyak. Tidak terbiasa atau kaku berbicara di depan umum bukan berarti dakwahnya harus berhenti, kita bisa berdakwah dibelakang layar, seperti menulis. Kelebihannya adalah dakwah ini tidak musnah walau sang dai/ penulis telah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada".

Seorang aktivis dakwah adalah seorang muslim sejati ia harus punya kepercayaan diri dan yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah mulia dihadapan Allah sehingga dai tidak mudah psimis dalam menjalankan dakwahnya. Berdakwah juga bisa dilakukan dengan metode yang berbeda-beda seperti poin-poin sederhana yang sudah dijelaskan di atas.

Semoga dengan sedikit ilmu yang saya bagikan ini kita bisa mengamalkannya dan terus menggali ilmu-ilmunya agar kita istiqomah di jalan Allah.

Wassalamualaikum, wr.wb.



at: 16/03/2015