Kamis, 03 Maret 2016

Mahar?


Renungan untuk diri sendiri, dan hasil pencarian
Assalamu’alaikum
Berbicara tentang mahar memang asing untukku, namun ada yang ingin aku cari lebih dalam akan hal ini. kalimat ringan penuh tanda tanya, atau karena ilmuku masih sangat kurang? Apapunlah, dengan diskusi aku selalu temukan jawaban dari yang labih tau :)
“Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan)” HR. al-Hakim :2692, beliau mengatakan “Hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim)
Jadi, saya pernah membaca kalau tidak salah “wanita yang baik adalah yang tidak memberatkan mahar pada calon suaminya”. Pertanyaannya, di jaman sekarang, bukankah orang-orang justru lebih banyak mengurusi urusan dunia? (astagfirullah mungkin termasuk saya) karena semuanya masih dalam belajar.
Terkadang aku berpikir, kelak jika aku menikah aku mauuuuu, mmmmmm
  1. Dikasi rumah bagus dan isinya
  2.  + ada mobil
  3. Nikah di gedung besar dengan acara yang mewah dan meriah.
Pada dasarnya wanita mana yang tidak mau mendapatkan hal itu?
Astagfirullah sungguh jahiliyahnya hambaMu ini ya Allah :(, tapi kasih sayangMu tak pernah putus sedikitpun terhadapku, ketika aku berkeinginan seperti itu dahulu, iya dulu... dan sekarang kau membiarkan aku berpikir…. Bukan… aku adalah manusia yang sering berbuat dosa yang Allah tutupi aibnya. Demi Allah aku bukan siapa-siapa di dunia ini, aku hanya berharap menjadi saudara yang Rasul rindukan meski keimananku tidak akan pernah seberat Abu Bakar yang keimanannya akan selalu lebih berat walau ditimbang dengan seluruh timbangan keimanan kaum muslimin di dunia ini.
Memangnya kau ini siapa? 
 Apakah kau Fatimah Azzahra puteri kesayangan Rasulullah ?
apakah kau Ummu Sulaim?
Atau kau adalah wanita siapapun namanya yang Allah jamin masuk surga? 
Apa kamu tidak malu?
Bahkan puteri seorang Rasul Allah saja, Rasul meminta dan meringakan mahar calon suaminya, Fatimah hanya diberi baju besinya Ali ketika Ali akan menikahi puterinya
Dan Ummu sulaim yang dinikahi Abu Thalhah, Ummu Sulaim hanya meminta Abu Thalhah untuk memeluk islam,
 ada juga sahabat yang menikah hanya dengan beberapa hafalan surat Al-Quran saja.
MasyaAllah, Maka dari segimana kau patut menerima hal yang berlebih-lebihan dalam mahar?
Dan jika Allah memberi suatu penghargaan pada yang paling tinggi maharnya, pastilah Rasulullah juga akan mencontohkan seperti yang Allah perintahkan.
Tapi tidak ada satupun dalil yang mengutamakan bahwa mahar itu harus yang tinggi, karena jikalau begitu maka Rasul pasti akan memerintahkan mahar yang banyak pada para sahabat dahulu, tapi dalam kenyataannya tidak ada.
catatan pribadi: Mungkin terkecuali jika calon laki-laki itu statusnya "mapan" dari segi ekonomi, maka calon suami ingin memberikan mahar yang mewah pada calon istrinya ya sah-sah saja, atau calon istrinya yang meminta juga tidak apa-apa karena ia tahu calonnya mapan,
tapi sebaik-baik wanita adalah yang meringankan beban/mahar calon suami.
Kalau begitu, berdo'a-lah mendapat yang mapan, tapi berbalik lagi ke kalimat sebelumnya.
^_^
Jika terjadi banyak kesalahan, moof maaf, karena penulis hanya manusia biasa dan masih terus belajar, berbagi tulisan adalah caraku untuk selalu mengingatkan pada diri pribadi.
Wassalamua’laikum ^_^
 
4 juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar