Pernah mendengar kisah tentang mush’ab bin umar? Sayang sekali jika tidak pernah mendengar
kisahnya, salah satu kisah paling menginspirasi
untuk saya, terutama ini adalah kisah tentang teladan bagi pemuda islam
di zaman modern ini. Saya membagi kisah ini dari sini
Tanpa
bermaksud apa-apa, hanya membagi kisah teladan islam.. semoga pemuda
islam dimasa sekarang maupun yang akan datang ada meneladani kisah
Mush'ab bin Umar
Di zaman Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya,
berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin
Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali
melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ
مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ
“Seorang laki-laki, yang aku
belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki
dari kalangan penduduk surga.”
Ia adalah di antara pemuda yang
paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual
dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.
:menurut
kalian di zaman sekarang masih ada gak ya pemuda yang mau meninggalkan
semua kekayaannya demi agama yang baru ia pahami?
Kelahiran
dan Masa Pertumbuhannya
Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa
jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair
dilahirkan pada tahun 585 M.
Ia merupakan
pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin
Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.
Dalam Asad
al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang
pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat
menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab
adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia
adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya
meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَا رَأَيْتُ
بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ
لِمَّةً ،
وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً
مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ
“Aku tidak
pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus
pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.”
(HR. Hakim).
Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai
saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari
tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.
Demikianlah
keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak
kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan
kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.
Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan
jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian,
Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang
lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang
hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan
menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di
rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.
Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya
sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah
untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya
ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.
Menjual
Dunia Untuk Membeli Akhirat
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat
Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala,
maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah
periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini
dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan
agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa
ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang
yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.
Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan
dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia
adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam
keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap
oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.
Hari demi
hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari
pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu
sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna
kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu
berisi, mulai terlihat mengurus.
Berubahlah
kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia
nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib
berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair
dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan
dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR.
Tirmidzi No. 2476).
Zubair bin
al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid
Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang
kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu
ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda,
“Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah.
Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan.
Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia
tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR.
Hakim No. 6640).
Saad bin Abi
Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab
bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang
kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah
mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu
berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail
Muhammad Ashbahani, Hal: 659).
Demikianlah
perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan
secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia
rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang
layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga
kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami
juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat
ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di
tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia
alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.
Peranan
Mush’ab Dalam Islam
Mush’ab bin
Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang
mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib,
Madinah.
Saat datang
di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan
dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di
Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar
penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah
taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya
yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan
kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak
terburu-buru.
Hal tersebut
sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil
mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab
berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa
yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka
terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab,
“Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa
itu Islam, lalu membacakannya Alquran.
Saad
memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang
ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah
mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang
kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami
perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu,
ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab.
Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.
Setelah itu,
Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang
kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau
adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus
tabiatnya”.
Lalu Saad
mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya
di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata,
“Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai
ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”
Tidak sampai
sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.
Karena
taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat
pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi
Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).
Wafatnya
Mush’ab bin
Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia
mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat
yang mulia ini. Ia berkata:
Mush’ab bin
Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang
penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi
(yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan
Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab membaca ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ
إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
ۚ
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Bendera pun
ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas
tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya
sambal membaca ayat yang sama:
وَمَا مُحَمَّدٌ
إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
ۚ
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Kemudian
anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab
gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu
Ishaq, Hal: 329).
Lalu Ibnu
Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh
Muhammad”.
Setelah
perang usai, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu
Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair
yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan
kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ
وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ
ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara
orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).”
(QS. Al-Ahzab: 23).
Kemudian
beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di
sisi Allah.
Setelah itu,
beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah,
tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya
daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”
Tak sehelai
pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya
ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila
ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda,
“Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”
Mush’ab
wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.
Para
Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair
Di masa
kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang sedang
dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair. Ia berkata, “Mush’ab bin Umair
telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi
jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf
pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.
Khabab
berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan
pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di
kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya
terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya
dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).
Penutup
Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi
pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada
artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia
ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah.
Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat
menuntut ilmu, mengamlakannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan
dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat
argumentasinya.
sumber: http://kisahmuslim.com/mushab-bin-umair-teladan-bagi-para-pemuda-islam/
09/02/15 20.43
09/02/15 20.43

Tidak ada komentar:
Posting Komentar